Mengenal Design Thinking, Metode Pemecahan Masalah Dalam Desain
Mengenal Design Thinking, Metode Memecahkan Masalah Ala Desainer
Design Thinking adalah kerangka kerja atau metode pemecahan masalah. Konsep ini telah ada selama beberapa dekade, tetapi dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir, IDEO, sebuah konsultan desain, telah memperjuangkan metode ini sebagai alternatif dari pendekatan analitis murni untuk pemecahan masalah. Tim Brown, presiden dan CEO IDEO, mendefinisikan Design Thinking seperti ini:
“Design Thinking adalah pendekatan yang berpusat pada manusia terhadap inovasi yang diambil dari perangkat perancang untuk mengintegrasikan kebutuhan manusia, kemungkinan teknologi, dan persyaratan untuk kesuksesan bisnis. Misi dari design thinking adalah menerjemahkan observasi menjadi wawasan dan wawasan menjadi produk dan layanan yang akan meningkatkan kehidupan.”
Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan utama dari metode design thinking adalah meningkatkan kehidupan. Faktanya, itulah yang dimaksud dengan design thinking: menemukan solusi baru dan kreatif untuk pemecahan sebuah masalah, tetapi dengan cara yang mengutamakan manusia dan kebutuhan mereka.
Perbedaan Metode Pemecahan Masalah Tradisional VS Design Thinking
Pemecahan masalah tradisional sering kali mengambil bentuk metodis, hampir ilmiah. Penentuan masalah, penentuan langkah yang harus diambil dan alat yang digunakan untuk mencapai solusi masalah, kemudian tetap berpegang pada rencana awal dan berharap hasil yang diinginkan. Hal ini mudah, tetapi tidak selalu fleksibel, inovatif atau efektif. Bagaimana jika masalah yang diidentifikasi bukanlah sumber masalah yang sebenarnya? Bagaimana jika langkah-langkah tersebut tidak mengarah pada solusi yang tepat? Alih-alih memulai dengan masalah, design thinking dimulai dengan observasi. Ini ditemukan melalui pemahaman tentang budaya dan konteks masalah (apa yang dibutuhkan orang), daripada masalah itu sendiri.
Proses & Tahapan Design Thinking
David Kelley, yang mendirikan IDEO dan Institut Desain Universitas Stanford (alias “d.school”), telah membagi proses design thinking ke dalam elemen-elemen berikut:
- Empati: Pahami Audiens Anda
Setiap masalah memiliki konteks yang unik, yang ditentukan oleh orang-orang. Dalam design thinking, empati melibatkan pemahaman tentang keyakinan, nilai, dan kebutuhan yang membuat audiens Anda tertarik. Ini melibatkan observasi, mendengarkan dan memahami audiens Anda dan berinteraksi dengan audiens atau pelanggan Anda.
2. Definisikan: Tetapkan Sudut Pandang
Saatnya memproses apa yang telah Anda pelajari dari audiens Anda, menyusunnya menjadi wawasan, koneksi, dan pola. Tentukan tantangan yang Anda hadapi dan bergerak menuju solusi masalah. Mengidentifikasi apa kesamaan dari semua informasi yang Anda kumpulkan, dan apa yang dikatakannya tentang audiens Anda dan apa yang mereka butuhkan? Dalam design thinking, proses ini dijelaskan sebagai menetapkan sudut pandang (point of view) yaitu pernyataan yang merangkum wawasan yang telah Anda pelajari tentang audiens Anda dan menjelaskan kebutuhan mereka. Solusi yang akhirnya Anda hasilkan akan diinformasikan oleh point of view (POV) ini.
3. Ideate: Fokus Pada Kemungkinan Solusi
Tahap ideate adalah proses brain dump ide, dan tidak ada yang terlarang. Intinya bukanlah untuk memisahkan ide yang baik dari yang buruk atau bahkan menemukan satu solusi yang “sempurna”, tetapi untuk menghasilkan sebanyak mungkin kemungkinan solusi yang ada. Salah satu kualitas utama dari tahap ideate adalah kolaboratif dan partisipatif. Poin yang mendasarinya disini adalah bahwa setiap orang kreatif dengan caranya sendiri. Proses brainstorming hanya bisa mendapatkan keuntungan dari memiliki sebanyak mungkin pikiran dan perspektif yang bersatu dalam menangani masalah yang sama.
4. Prototipe: Mencoba Berbagai Solusi
Idealnya, tahap ideate harus menghasilkan banyak solusi. Pada tahap prototipe, tujuannya adalah untuk menguji solusi yang terbaik. Stanford’s d.school menyarankan bahwa prototipe tersebut dapat berupa apa saja mulai dari catatan dinding atau storyboard hingga barang fisik atau digital maupun aktivitas interaktif. Proses membangun prototipe kemungkinan akan membantu memperjelas masalah lebih jauh dan menawarkan wawasan baru atau solusi baru yang belum pernah Anda pikirkan sebelumnya. Dalam mempersiapkan tahap pengujian akhir, akan sangat membantu jika prototipe dapat dilihat atau dialami oleh audiens atau pengguna Anda untuk tujuan meminta umpan balik.
5. Tes: Temukan Solusi Terbaik untuk Audiens Anda
Pengujian membantu Anda mempelajari lebih lanjut tentang kemungkinan solusi Anda dan lebih banyak lagi tentang audiens Anda. Bergantung pada bagaimana proses pengujian berjalan, ini dapat mengarah kembali ke salah satu dari empat tahap sebelumnya. Sebagai contoh pada tahap testing atau pengujian Anda mungkin menemukan bahwa Anda tidak mendefinisikan masalah dengan benar atau gagal memahami audiens Anda dan perlu kembali ke titik awal. Atau Anda mungkin hanya perlu menyempurnakan prototipe sedikit. Kemungkinan besar, pengujian akan membantu Anda mengembangkan prototipe yang ditingkatkan atau lebih canggih. Seperti disebutkan sebelumnya, setiap tahap proses design thinking dapat diulangi atau dikembalikan sesuai kebutuhan, atau diubah urutannya. Design thinking tidak dimaksudkan sebagai proses yang linier dan didefinisikan secara ketat, tetapi untuk beradaptasi dengan persyaratan unik dari lingkungan dan proyek individu yang kolaboratif.